Sumber daya alam (SDA) Indonesia yang telah dikelola hingga saat ini tidak luput dari berbagai konflik kepentingan. Konflik yang terjadi hingga turun-temurun memberikan dampak buruk disaat pertambahan jumlah penduduk Indonesia kian pesat, sebab kebutuhan akan SDA semakin tinggi untuk memenuhi kebutuhan manusia. Disisi lain pemerintahan sebagai pelayan masyarakat terus mengalami pergantian baik kepala negara hingga kepala daerah, bahkan tidak luput para pembantunya seperti menteri, badan khusus, dinas-dinaspun pimpinannya juga diganti dengan dalih penyegaran. Akan tetapi pergantian tersebut tidak sering menyelesaikan permasalahan konflik yang terjadi, mengapa demikian? Karena proses negoisasi sistem politik dan pemerintahan yang tidak berjalan dengan sehat yang akhirnya mengorbankan sumberdaya alam yang berada diwilayah administrasinya.
Seiring dengan permasalahan pengelolaan SDA diatas, Centre of Social Excellence (CSE) – The Forest Trust (TFT) mengadakan kegiatan Belajar Bersama “Social Specialist” dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam yang Bertanggungjawab dengan peserta berjumlah 25 orang yang telah lolos dari seleksi. Belajar Bersama menjadi agenda resmi CSE dan dilakukan secara berkala, 3-4 kali dalam setahun dengan durasi 10 hari, diikuti oleh 25 Warga Belajar, yang berasal dari berbagai latar belakang seperti perusahaan, LSM, Masyarakat, Pemerintah, Akademisi, kelompok rentan dan Fresh Graduate. MAP Institute merupakan LSM yang mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan sekaligus mendapatkan beasiswa berupa bebas biaya pendaftaran dan selama mengikuti kegiatan. Faridh Almuhayat (Direktur Eksekutif MAP Institute) merupakan salah satu delegasi yang mengikuti kegiatan selama 10 hari dari tanggal 8 – 18 Agustus 2016 di Kota Batu, Jawa Timur.
“Saya merasakan bahwa kebuntuan dari penyelesaian konflik yang terjadi selama ini yaitu tidak adanya komunikasi antar pemangku kepentingan, maka belajar bersama angkatan IV ini saya ikuti untuk mendapatkan pengetahuan baru dalam pendekatan penyelesaian konflik yang terjadi di Indonesia” ujar Faridh dalam realesenya.
Dalam keterangan terpisah dari CSE sebagai pelaksana menyatakan bahwa tujuan Belajar Bersama adalah mentransformasikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap tentang: 1) Kolaborasi sebagai jalan terbaik dalam pengelolaan SDA; 2) Resiko-resiko pengelolaan SDA dan cara-cara mitigasinya; 3) Inovasi-inovasi dalam mengelola SDA secara bertanggungjawab. Selain itu belajar Bersama ini meng-arus utama-kan ‘kolaborasi’ dan inklusivitas gender dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam (PSDA), dimana semua proses tahapan Belajar Bersama akan mengedepankan penggunaan pendekatan kolaborasi, dan fokus pada pencapaian “kebaikan bersama.”
Menurut Faridh “materi-materi yang disampaikan sangat menarik karena bersifat makro dan dibahas secara teoritis, seperti materi Sistem Pengelolaan SDA di Indonesia (DR. Rikardo Simarmata SH) , Hak-hak Masyarakat Adat dan masyarakat Lokal (Dr. Mia Siscawati), Kolaborasi dalam PSDA (Dr. Suporaharjo, Inklusivitas Gender (Mukhotib MD), Kajian Tenurial (Muh. Aminuddin), Studi Dampak Sosial (Aris Bahariono), FPIC (Faisal Fuad), dan Resolusi Konflik (Berdy Stevens)”. Kemudian imbuhnya bahwa selama 2 hari para peserta juga diberikan satu dari beberapa materi untuk dipraktikkan dilapangan dengan lokasi yang konfliknya berbeda-beda. Saya dengan kelompok yang terdiri berbagai latar belakang lembaga seperti sahabat Bintang (LSM OLI Yogyakarta), Sri Asih (Dinas Kehutanan Kabupaten Malang), Vebi (Fresh Graduate), dan Heri (PT. SMART) melakukan praktik mengenai Kajian Tenurial antara masyarakat dengan TNI Angkatan Laut.
Pembelajaran penting dalam proses pelatihan “Social Specialist” ini bahwa kita dituntut untuk dapat menjadi mediator antar masing-masing stakeholder yang berkepentingan terhadap SDA dengan melihat konflik dari berbagai sudut pandang. Metode yang digunakan merupakan pendekatan-pendekatan dalam melakukan upaya mitigasi maupun solusi dari konflik yang terjadi, maka diharapkan “Social Specialist” dapat mengurai masalah yang ada sehingga menghasilkan solusi yang terbaik bagi semua pihak (win win solutions).